Chandra Gupta – PPDI News

Ciwidey, Kabupaten Bandung – Di ketinggian yang menjulang di perbatasan alam, udara sejuk menyapa dengan aroma pinus dan kabut tipis. Suara angin yang mendesir pelan di antara rerimbunan pohon menjadi soundtrack alam yang menenangkan. Inilah Puncak Kubang, sebuah destinasi camping ground yang sedang naik daun di wilayah Ciwidey, Kabupaten Bandung. Yang membedakannya dari tempat serupa? Obyek wisata memukau ini sepenuhnya dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sukmajaya, Desa Sukawening.
Puncak Kubang bukan sekadar tempat mendirikan tenda. Ia adalah panggung alam yang menghadirkan dua pertunjukan agung setiap harinya: sunrise dan sunset. Saat fajar menyingsing, semburat jingga dan emas perlahan membelah cakrawala, menyinari hamparan perbukitan dan perkebunan teh di kejauhan. Ketika senja tiba, langit berubah menjadi kanvas berwarna ungu, merah muda, dan keemasan sebelum akhirnya malam turun dan ribuan bintang mulai berkelip.

“Keindahannya semakin magis pada musim kemarau, sekitar April hingga Oktober,” jelas Saepul, Sekretaris Desa Sukawening, dengan semangat. “Kabut pagi sering kali membentuk lautan awan putih di bawah puncak. Pengunjung sering berkata, mereka serasa berada di negeri atas awan. Itulah daya tarik utama kami.”
Kondisi dan Fasilitas: Antara Pesona Alam dan Tantangan Pengembangan
Dari segi aksesibilitas, jalan menuju lokasi utama dalam kondisi yang baik dan dapat dilalui kendaraan roda dua maupun mobil pribadi. Namun, Saepul mengingatkan bahwa akses jalan menuju titik utama sudah mulai sulit untuk kendaraan besar seperti bus pariwisata atau elf. “Lebar jalan dan konturnya yang agak curam membuat kendaraan besar harus berhenti di titik tertentu. Dari sana, pengunjung bisa berjalan kaki atau menggunakan ontang-anting dan jasa ojek warga yang sudah kami koordinir,” taimbahnya.
Meski pemandangannya sudah “siap jual”, Puncak Kubang masih memerlukan sentuhan pengembangan lebih lanjut. Beberapa fasilitas dasar seperti mushola yang permanen dan kantin belum tersedia. Saat ini, pengunjung mengandalkan tenda mereka sendiri atau rumah warga terdekat. Toilet umum sudah ada, namun jumlahnya masih terbatas.

Kolaborasi Terbuka untuk Masa Depan Wisata Desa
Menyadari potensi besar yang bisa digali, Pemerintah Desa Sukawening menyambut baik adanya kolaborasi untuk memajukan Puncak Kubang. “Kami menerima dengan terbuka apabila ada investor atau mitra yang ingin bekerja sama dengan BUMDes Sukmajaya untuk pengembangan wisata ini,” ujar Saepul. “Prinsipnya adalah kemitraan yang saling menguntungkan dan tetap mengedepankan pemberdayaan masyarakat serta kelestarian alam.”
Harapannya, dengan masuknya investasi yang bertanggung jawab, fasilitas pendukung dapat dibangun tanpa merusak keasrian alam. Pengembangan yang berkelanjutan akan meningkatkan kenyamanan pengunjung, menciptakan lebih banyak lapangan kerja bagi pemuda desa, dan pada akhirnya meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes).

Kesimpulan: Pesona yang Menjanjikan
Puncak Kubang adalah cerita tentang potensi yang mulai bersinar. Ia adalah bukti bahwa dengan pengelolaan komunitas melalui BUMDes, sebuah desa bisa membangun destinasi wisata dari sumber dayanya sendiri. Saat ini, ia menawarkan pengalaman “back to nature” yang autentik dengan harga terjangkau. Ke depannya, dengan sentuhan pengelolaan yang lebih matang dan fasilitas yang memadai, bukan tidak mungkin Puncak Kubang akan menjelma menjadi salah satu primadona wisata alam baru di Ciwidey. Bagi para pelancong yang mencari ketenangan, panorama spektakuler, dan ingin merasakan sensasi “menyentuh langit”, Puncak Kubang menunggu kunjungan Anda.
